Pernah nggak sih, kamu udah capek-capek bikin produk, desainnya udah kece, campaign udah jalan di mana-mana… tapi yang beli sepi? Bukan cuma kamu kok yang ngalamin ini. Banyak banget bisnis dari UMKM sampai startup jatuh ke lubang yang sama: jualan duluan, riset belakangan.
Padahal, sebelum ngomongin strategi marketing, branding, atau iklan yang mahal, ada satu langkah yang sering banget dilewatin: riset kebutuhan pasar. Di artikel ini, kita bakal bahas tuntas kenapa langkah ini krusial, dan gimana cara melakukannya dengan benar biar produk kamu nggak cuma “bagus di mata sendiri” tapi juga dibutuhkan pasar.
Ini yang sering jadi blind spot: kita mikir kalau produk gagal itu karena kualitasnya kurang bagus, harganya kemahalan, atau marketingnya kurang gencar. Padahal, akar masalahnya sering kali jauh lebih dasar dari itu kita salah membaca kebutuhan market.
Coba bayangin, kamu bikin produk berdasarkan asumsi pribadi atau ikut-ikutan tren, tanpa benar-benar tahu apakah orang di luar sana beneran butuh itu. Hasilnya? Biaya marketing membengkak, closing rate rendah, dan yang lebih parah, kamu jadi ragu sama produk sendiri.
Di Impacta, hal ini juga jadi concern utama dalam framework Total Growth Marketing (TGM). Salah satu prinsipnya jelas banget: strategi marketing sering gagal bukan karena eksekusinya jelek, tapi karena fondasi awal memahami pasar dilewatkan begitu saja.
Sederhananya, riset kebutuhan pasar adalah proses mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang calon konsumen apa masalah mereka, apa yang mereka butuhkan, dan seberapa besar kebutuhan itu sebelum kamu memutuskan untuk membuat atau menjual sebuah produk/layanan.
Ini beda dengan riset pasar secara umum yang kadang cuma fokus ke tren atau kompetitor. Riset kebutuhan pasar lebih spesifik: fokusnya ke “masalah nyata” yang dialami target konsumen, bukan cuma “apa yang lagi hits”.
Kenapa ini penting? Karena produk yang laku itu bukan produk yang paling keren, tapi produk yang paling pas menjawab masalah orang.
Beberapa alasan kenapa kamu nggak boleh skip step ini:
Dalam pendekatan Understanding Market dari framework TGM, ada tiga pertanyaan dasar yang wajib kamu jawab sebelum melangkah ke tahap value creation, branding, atau marketing:
Sebelum mikirin solusi (produk kamu), balik lagi ke pertanyaan paling dasar: masalah apa sih yang lagi kamu coba selesaikan? Banyak orang justru kebalik udah punya produk duluan, baru nyari-nyari “masalah apa ya yang bisa diselesaikan produk ini?” Padahal idealnya, masalah dulu yang ditemukan, baru solusi dirancang.
Setelah tahu masalahnya, langkah selanjutnya adalah memetakan siapa target market kamu. Jangan asal generalisasi “semua orang butuh ini” makin spesifik segmen yang kamu tuju, makin gampang juga strategi marketing kamu dieksekusi.
Ini bagian yang sering dilupakan: mengukur potensi pasar. Di sini biasanya dipakai konsep TAM, SAM, dan SOM biar kamu punya gambaran realistis soal besarnya peluang.
| Konsep | Kepanjangan | Penjelasan Simpel |
| TAM | Total Addressable Market | Total keseluruhan pasar yang mungkin butuh produk kamu skala paling luas |
| SAM | Serviceable Available Market | Bagian dari TAM yang bisa kamu jangkau berdasarkan model bisnis & lokasi |
| SOM | Serviceable Obtainable Market | Porsi realistis yang bisa kamu dapatkan dalam jangka waktu tertentu, sesuai kapasitas & sumber daya kamu |
Dengan memetakan tiga hal ini, kamu jadi punya ekspektasi yang lebih realistis nggak cuma modal “feeling produk ini bakal laku”.
Oke, sekarang masuk ke bagian praktisnya. Berikut langkah-langkah riset kebutuhan pasar yang bisa kamu terapkan, bahkan kalau kamu baru mulai bisnis dengan budget terbatas:
Data primer itu data yang kamu kumpulkan langsung dari calon konsumen. Beberapa caranya:
Data sekunder adalah data yang sudah ada, tinggal kamu manfaatkan. Contohnya:
Sebelum produksi massal, coba validasi dulu dengan skala kecil bisa lewat pre-order, landing page sederhana, atau prototype terbatas. Dari sini kamu bisa lihat respons asli pasar sebelum invest lebih besar.
Gimana cara tahu kalau ternyata kamu udah salah langkah dari awal? Ini beberapa tandanya:
Kalau kamu ngerasa relate sama beberapa poin di atas, itu sinyal kuat buat balik lagi ke basic: cek ulang riset kebutuhan pasar kamu.
Beberapa kesalahan yang paling sering terjadi dan cara menghindarinya:
Riset kebutuhan pasar bukan sekadar “checklist” sebelum bisnis jalan ini adalah fondasi yang menentukan apakah strategi marketing, branding, sampai selling kamu nanti akan efektif atau justru buang-buang budget. Dalam pendekatan Total Growth Marketing (TGM), tahap Understanding Market ini memang sengaja diletakkan paling awal karena semua elemen lain (value creation, branding, marketing, selling, CRM) baru bisa berjalan efektif kalau fondasinya sudah tepat.
Kalau kamu masih ragu apakah produk atau strategi marketing kamu sekarang udah benar-benar nyambung sama kebutuhan pasar, coba mulai dari mengevaluasi ulang tiga hal: masalah, target market, dan skala peluangnya.
Butuh bantuan mengevaluasi apakah strategi marketing kamu sudah sesuai kebutuhan pasar? Yuk, cek lewat TGM Audit dari Impacta evaluasi menyeluruh mulai dari understanding market sampai strategi selling kamu, biar nggak salah langkah sebelum scaling budget marketing lebih besar. Konsultasi TGM Audit di sini
Riset kebutuhan pasar adalah proses mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang calon konsumen termasuk masalah, preferensi, dan potensi permintaan mereka sebelum sebuah produk atau layanan dibuat maupun dipasarkan. Tujuannya untuk memastikan produk yang dibuat benar-benar menjawab kebutuhan nyata konsumen, bukan sekadar asumsi.
Karena riset ini membantu mengurangi risiko kegagalan produk, menghemat budget marketing yang salah sasaran, serta memastikan pesan dan strategi marketing lebih tepat sasaran. Tanpa riset ini, bisnis sering terjebak membuat produk yang “bagus” tapi nggak benar-benar dibutuhkan pasar.
Caranya bisa dimulai dengan mengumpulkan data primer (survei, wawancara, observasi), melengkapinya dengan data sekunder (tren, riset kompetitor), lalu memvalidasi asumsi lewat produk skala kecil seperti pre-order atau prototype sebelum produksi massal.
Beberapa tandanya antara lain traffic tinggi tapi konversi rendah, feedback konsumen yang cenderung ambigu, biaya akuisisi pelanggan yang terus naik tanpa closing sepadan, sering gonta-ganti positioning, dan rendahnya repeat order dari pelanggan.
Pernah nggak sih ngerasa udah habis-habisan boncos budget buat Ads, rajin posting di sosmed, sampai…
Coba jujur-jujuran dulu sebentar. Iklan sudah jalan. Konten Instagram rutin naik tiap hari. Tim sosial…
Padahal traffic sudah ada. Konten sudah ditonton. Audiens juga sudah menunjukkan ketertarikan. Lalu, bagaimana potensi…
Bagaimana jika halaman kota yang sengaja dibuat untuk mendatangkan lead justru yang paling sering hilang…
Berapa banyak anggaran digital ads yang habis untuk menjangkau audiens yang sebenarnya sudah mencari sendiri,…
Dalam dunia penjualan, menghasilkan leads memang penting tetapi itu baru langkah awal. Tantangan sesungguhnya ada…